Monthly Archives: Agustus 2012

Butuh Bos yang Memotivasi, bukan Menakut-nakuti

Sejakpertengahan November 2011, perusahaan tempatku bekerja tidak memiliki pemimpin. Yaa, itu dikarenakan bosku pindah ke salah satu Bank Swasta Nasional.

Setiap perusahaan pasti memiliki masalah yang harus diselesaikan. Banyak PR yang harus kami kerjakan, seperti pemutus pembiayaan yang belum ada dan negosiasi dengan perusahaan-perusahaan yang akan kami ajak kerjasama.

Dan sejak Juni 2012, akhirnya kami mendapatkan pemimpin yang baru. Dan aku berharap bos baruku ini bisa membantu menyelesaikan PR kami ini.

Namun itu tinggal angan-angan dan harapan saja. Sudah sampai 3 bulan ini, bosku juga tidak mengadakan meeting atau berkoordinasi dengan teman-teman kantorku, untuk membahas masalah-masalah yang ada dan bagaimana menyelesaikan secara team.

Aku berharap ada motivasi dari bosku ini, agar bekerja lebih semangat. Namun, setiap habis doa pagi hanya peraturan-peraturan dan sangsi-sangsi saja yang diberikan. Sehingga susana kerja semakin menakutkan.

Untuk menyelesaikan maslah-masalah, seperti pembiayaan yang tidak kunjung Growth serta banyaknya nasabah yang menunggak, tidak hanya dengan bertanya “Gimana ini, kok masih banyak sich nasabah yang belum bayar….”

Untuk mengadakan meeting saja tidak pernah, bagaimana mau ada solusinya dan merasakan keluhan dari bawahan. Aduhhhhhh…#cape dechhh

Wajar jika teman-temanku banyak yang mau mengajukan resign. Karena memang tidak ada motivasi, perhatian dan komunikasi dari bos baruku ini. Justru hanya peraturan dan sangsi-sangsi yang menakutkan yang selalu dia sampaikan di doa pagi.

Untuk menyesaikan masalah ternyata tidak hanya butuh 1 langkah, seperti datangnya bos baru, seperti bos baruku ini. Namun ternyata masih butuh puluhan langkah.

Dan aku harus berpikir, solusi itu tidak hanya bisa bergantung dari pimpinan, tapi kita sendiri yang harus merubahnya.

Untuk teman-teman kantorku tetap semangat……

#sebuah catatan untuk sahabatku Hendra Aditya dan Ali Nur Ikhsan…selamat jalan di tempat yang baru, semoga sukses

Categories: Sebuah catatan | Tinggalkan komentar

Tanggal 2 Bulan 2 Tahun 2002 Jam 2 malam

Malam itu benar-benar malam yang tidak akan aku lupakan sepanjang kehidupanku. Yaaa, saat itu banjir nasional datang ke rumah kami.

Kami sudah terkurung di atas tingkat rumah kami selama 2 hari. Dan pada saat itu tanggal 1 Februari 2002 di sore harinya, aliran air PAM pun sudah tidak mengalir lagi. Akupun mulai khawatir, kalo untuk tidak mandi saja masih bisa, dan sholatpun masih bisa bertayamum, tapi bagaimana kalo untuk minum?? Karena aku baru saja mempunyai anak bayi yang baru memasuki usia 2 bulan.

Semua Serba 2

Hujan masih saja belum reda malam itu, jadi kami tidak berani mengungsi, walaupun terakhir aku turun ke bawah untuk menerima telpon dari saudara-saudaraku yang menanyakan keadaan kami itu, air sudah seleherku. Itupun aku sambil jinjit (mengangkat kaki).

Anak-anak muda dari karang taruna berkali-kali berteriak memanggil namaku…”Anton..Anton mau ngungsi nggak?? Yang lain sudah pada mengungsi..teriak mereka. Aku dan istriku tetap belum berani untuk mengungsi, karena selain memiliki bayi yang masih berusia 2 bulan, hujan juga belum reda-reda.

Namun akhirnya tepat jam 2 malam, ketika anak-anak muda karang itu datang ke rumah dan berteriak lagi..”Anton..Anton, kamu mau ngungsi nggak?? ini untuk yang terakhir kalinya lho, kami sudah kelelahan. Yaa mungkin karena mereka membantu banyak warga untuk mengungsi. Dan alat yang mereka gunakan untuk membantu warga adalah getek yang terbuat dari gedebong pisang, karena perahu karet dari Tim SAR bocor mengenai pagar salah satu rumah tetangga kami.

Aliran listrikpun padam, dan akhirnya istrikupun mau memutuskan untuk mengungsi ke POS RW (tempat menampung warga untuk sementara). Alhamdulilah hujan benar-benar berhenti, ini anugrah dari Allah SWT yang sangat kami syukuri. Dan akhirnya istriku, ibuku dan adikku yang paling kecilpun naik ke atas gedebong pisang yang di bawa anak-anak muda dari karang taruna.

Sedangkan aku sendiri berjalan kaki sambil membawa anakku Aniendhya dengan menggunakan ember gendongan bayi. Saat menyusuri gang depan rumahku, air belum terasa deras. Namun saat melewati jalan utama, dorongan air benar-benar sangat kencang mendorong tubuhku.

Aku hanya bisa menahan, berjalan pelan-pelan. Sambil menangis aku sambil berdoa semoga selamat sampai tempat pengungsian. Yaa, karena jarak dari rumah kami menuju Pos RW sekitar 200 meter. Dorongan itu benar-benar terasa kencang.

Dalam perjalanan itu aku sambil menangis, ini benar-benar kejadian seperti sinetron di TV. Tepat jam 2 malam tanggal 2 bulan 2 tahun 2002 ketika anakku memasuki usia 2 bulan, aku berjalan ditengah banjir besar dalam kegelapan, karena aliran listrik sudah putus.

Alhamdulilah akhirnya aku dan keluarga sampai juga di Pos RW dengan selamat. Dan Alhamdulilahnya lagi, pada saat tanggal 18 Februari, aku sudah dapat bekerja di salah satu Bank swasta.

Mungkin itu rejeki dari cobaan yang Allah SWT berikan.

#sebuahcatatan, semoga bermanfaat

Categories: Sebuah catatan | Tinggalkan komentar

Punggawa Dinasti Prananta

Inilah Para Punggawa Prananta yang akan membangun Dinasti Prananta di masa mendatang.

Istriku tercinta Iien Prananta, Aniendhya Azzahra Puri Prananta, Nandhyo Alharitz Prananta dan Reniendhyta Azzahwa Puri Prananta.

Salam hangat dari keluarga Prananta….Sukses All

Categories: Dinasti Prananta | Tinggalkan komentar

Kerinduan dengan Luka di Kaki

Kamis, 23 Agustus 2012
Makkah-Aqsa-Baghdad (2)

’’Dari Indonesia,’’ jawab saya.
’’Muslim?’’ tanya tentara Israel bersenjata itu.
’’Yes,’’ jawab saya.

Kami pun bisa dengan mudah melewati gerbang tua dengan tembok yang tebal
dan kukuh itu. Gerbang yang dijaga tentara Israel bersenjata. Itulah gerbang
masuk ke kawasan yang luasnya sekitar 10 lapangan sepak bola. Yang di
dalamnya terdapat taman dan pepohonan.

Di tengah taman itu terdapat masjid besar berkubah kuning. Itulah Masjid Kubah
Batu. Tidak jauh dari situ, terlihat satu masjid besar lagi: itulah Masjid Al Aqsa.

Tembok yang mengelilingi kawasan itu terlihat tinggi, tebal, dan terkesan sangat
kuno. Dari luar, tembok tersebut tidak terlihat karena tertutup perkampungan
yang padat, yang sampai menempel ke tembok.

Dari arah Kota Jerusalem, untuk mencapai gerbang itu, harus jalan kaki melewati
gang-gang kecil yang sambung-menyambung. Juga naik turun dan berliku-liku.

Itulah perkampungan yang hampir 100 persen penduduknya merupakan warga
Palestina. Tukang cukur, penjual makanan dan mainan anak-anak, serta toko
kelontong terlihat di sepanjang gang itu.

Melewati gang-gang menuju gerbang Baitul Maqdis, saya teringat bagaimana
masuk ke Masjid Ampel Surabaya yang harus melewati kampung Arab yang
padat. Ya mirip itulah.

Bagi penduduk kampung itu, tidak ada larangan apa pun untuk melewati gerbang
tersebut. Mereka memiliki KTP berwarna biru. Mereka bisa salat di Baitul Maqdis
(baik di Masjid Kubah Batu maupun di Masjid Al Aqsa) kapan saja.

Tapi, bagi warga di luar kampung tua tersebut, ada peraturan khusus: yang
berumur kurang dari 40 tahun tidak boleh masuk. Otomatis juga dilarang salat di
sana. Untuk mengontrol mereka, warna KTP-nya dibedakan: hijau. Itu
merupakan dalih Israel untuk mencegah berkumpulnya pejuang Palestina dari
berbagai penjuru di Masjid Al Aqsa.

Ada tujuh gerbang masuk ke kawasan Baitul Maqdis tersebut. Semua terhubung
dengan gang-gang kecil perkampungan padat Palestina. Semua dijaga tentara
Israel bersenjata. Kalau saja lebih terurus, kawasan di dalam tembok tua tersebut
akan sangat indah. Taman-tamannya yang luas dipisahkan jalan-jalan kecil yang
terbuat dari batu. Hanya, kurang rapi dan kurang bersih.

Hari itu, hari ke-28 bulan puasa, saya tiba di sana langsung dari perbatasan
Israel-Jordania. Saya tidak mampir hotel dengan maksud mengejar salat Duhur
berjamaah. Tapi telat.

Tapi, ada hikmahnya. Saya bisa salat Duhur bersama keluarga di Masjid Kubah
Batu. Laki-laki memang hanya diizinkan memasuki Masjid Kubah Batu di antara
waktu duhur dan asar. Masjid Kubah Batu itu istimewa karena ada bukit batu di
tengah-tengahnya. Bukit batu tersebut dikelilingi tembok setinggi 3 meter,
sehingga jamaah di sana seperti berjajar melingkarinya.

Dari atas bukit batu itulah Nabi Muhammad SAW ’’naik’’ ke Sidratul Muntaha,
menghadap Allah SWT. Yakni, untuk menerima perintah kewajiban menjalankan
salat lima kali sehari. Peristiwa itu terjadi pada malam tanggal 27 Rajab, yang
kemudian tiap tahun diperingati sebagai Isra Mikraj.

Waktu peristiwa Isra Mikraj itu terjadi, tentu belum ada bangunan apa pun di situ.
Masjid Kubah Batu tersebut baru dibangun belakangan. Di bawah bukit batu
tersebut terdapat pula gua yang besarnya cukup untuk bersembunyi 10 orang.

Konon, Nabi Ibrahim yang menggalinya.
Kini masjid Kubah Batu hanya untuk perempuan. Imamnya ikut imam Masjid Al
Aqsa dengan pengeras suara yang dialirkan ke masjid itu. Jarak Masjid Kubah
Batu dengan Masjid Al Aqsa memang hanya sekitar 300 meter. Al Aqsa lebih di
bawah.

Tiga Risiko

Seusai salat Duhur di Masjid Kubah Batu, kami jalan-jalan melihat sisi luar
tembok kuno yang mengelilingi kawasan tersebut. Ada satu kawasan di luar
tembok yang bisa dibebaskan dari perumahan Palestina. Itulah bagian luar
tembok yang kemudian dijadikan tempat ibadah orang Yahudi. Mereka antre
menuju tembok itu, menangis dan meratap di situ.

Sore itu kami salat Asar di Masjid Al Aqsa. Waktu magrib kami ke masjid itu lagi.
Disambung salat Isya dan Tarawih. Tarawih di sana sama dengan di Makkah,
yakni 20 rakaat. Bacaan suratnya pun sangat panjang. Tapi lebih cepat. Bedanya,
di setiap habis dua rakaat diselingi salawat Nabi.

Jamaah Tarawih malam itu sekitar 1.500 orang. Hanya, setiap selesai dua rakaat,
ada saja yang meninggalkan masjid. Selesai rakaat ke-10, tinggal separo masjid
terisi.

Di Al Aqsa, mayoritas jamaah mengenakan celana biasa (banyak bercelana jins
atau celana anak muda setengah kaki). Hanya beberapa orang yang mengenakan
penutup kepala. Menjelang subuh, saya ke Masjid Al Aqsa lagi. Genaplah saya
salat lima waktu di Al Aqsa.

Menjelang matahari terbit, saya duduk-duduk di pelataran masjid. Demikian juga
puluhan anak muda. Udaranya sejuk. Pepohonan besar terasa seperti
mengeluarkan oksigen lebih banyak.

Saat duduk-duduk itulah saya tahu, ternyata cukup banyak anak muda yang ber-
KTP hijau. Kok bisa masuk ke sini? ’’Loncat pagar kawat berduri,’’ ujar pemuda 27
tahun tersebut.

’’Saya melewati lubang yang saya buat di bawah pagar,’’ ujar pemuda di
sebelahnya.
’’Kalau saya memanfaatkan jarak kawat yang agak renggang yang cukup untuk
badan saya,’’ kata seorang pemuda yang ternyata dokter.

Mereka itu adalah pemuda-pemuda Palestina yang sangat merindukan salat di
Masjid Al Aqsa. ’’Sejak adanya larangan anak muda datang ke sini, baru sekali ini
saya ke Masjid Al Aqsa,’’ ungkapnya.

Al Aqsa tentu sangat istimewa. Itulah infrastruktur pertama yang pernah
dibangun di muka bumi. Yakni, 40 tahun setelah pembangunan Kakbah yang
pertama. Al Aqsa maupun Kakbah sama-sama sudah mengalami berkali-kali
pembangunan kembali. Setelah rusak oleh gempa maupun banjir. Dua-duanya
dipercaya dibangun malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi.

Keistimewaan Al Aqsa itulah yang membuat para pemuda Palestina tersebut
mengambil risiko yang berat untuk bisa salat malam tanggal 27 Ramadan di
dalamnya. Al Aqsa adalah tempat suci mereka dan ibu kota negara mereka.

Sejak Israel membangun perumahan Yahudi di tanah Palestina, perkampungan
orang Palestina dipagari kawat berduri. Itu dilakukan untuk memisahkan mereka
dari kampung Yahudi.

UUD Israel memang menyebutkan: orang Yahudi dari mana pun yang mau
datang ke tanah Palestina disediakan rumah, mobil, dan keperluan hidupnya.
Sejak itu, perkampungan Yahudi terus dibangun di tanah Palestina. Orang-orang
Palestina sendiri untuk bisa keluar dari kampungnya harus lewat pos penjagaan
ketat. Atau meloncati pagar.

Untuk datang ke Masjid Al Aqsa, misalnya, mereka menempuh tiga risiko.
Pertama, bagaimana bisa keluar kampung dengan meloncat pagar. Kedua,
bagaimana bisa berjalan kaki jauh, naik turun bukit, untuk mencapai Al Aqsa.

Bisa saja di tengah jalan mereka ditangkap. Ketiga, bagaimana dengan KTP hijau
mereka bisa melewati penjagaan tentara bersenjata di gerbang masuk Baitul
Maqdis.

Israel menduduki tanah Palestina sejak 1947/1948. Waktu itu, kawasan tersebut
menjadi jajahan Inggris. Ketika orang Yahudi dimusuhi di mana-mana (terutama
di Jerman dan Rusia), pemerintah Inggris memutuskan untuk memberikan
negara kepada orang Yahudi. Pilihannya dua. Dua-duanya di wilayah jajahan
Inggris: Uganda atau Palestina.

Semula Inggris menentukan Uganda di Afrika. Tapi, Yahudi menolak. Mereka
memilih tanah Palestina. Yahudi percaya Jerusalem adalah tanah leluhur mereka.
Sejak itulah tidak pernah ada ketenteraman di Timur Tengah.

Pemuda yang loncat pagar itu lantas menyingsingkan celananya. ’’Lihat ini,’’
katanya. Terlihat luka-luka baru masih menyisakan darah yang mulai mengering.
Bekas goresan pagar kawat berduri itu terlihat memanjang sampai dekat
lututnya. (*)

Catatan ini di ambil dari blog Dahlan Iskan #Smoga bermanfaat

Categories: Sebuah catatan | Tinggalkan komentar

Kisah Nyata Sedekah dari Ustadz Yusuf Mansur 1

Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat. Mungkin diri kita pernah merasakan demikian. Maka instropeksilah, mungkin sedekah yang kita keluarkan terlalu sedikit, sehingga berkah yang Allah berikan juga sekedarnya. Padahal dalam surat Al An’am ayat 160, Allah sudah janji akan melipatgandakan pahala sampai 10 kali lipat bagi mereka yang berbuat kebaikan. Jadi sebetulnya kita tak perlu ragu untuk menyisihkan penghasilan bagi mereka yang membutuhkan. 1 – 1 = 10, itulah ilmu sedekah. Banyak kejadian dibalik fenomena keajaiban sedekah.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Yusuf memaparkan beberapa kisah yang Insya Allah mampu meningkatkan keyakinan kita, bahwa Allah pasti akan meliptrgandakan pahala-Nya, bila kita sedekah. Contohlah sebuah kisah tentang seorang supir yang mengeluh karena gajinya terlalu kecil.

“Supir ini datang ke Klinik Spiritual dan Konseling Wisata Hati. Dia bilang gajinya cuma 800 ribu, padahal anaknya lima! Ia ingin gajinya jadi 1,5 juta!” ujar Ustadz Yusuf sambil duduk bersila di permadani.

Dengan bijak, Ustadz Yusuf mengajak supir itu mensyukuri terlebih dahulu apa yang telah didapatkannya selama ini. Kemudian ia menunjukkan surat Al An’am 160 dan surat 65 ayat 7, mengenai anjuran bagi yang kaya untuk membagi kekayaannya dan yang mampu membagi kemampuannya.

Supir itu lantas bertanya,”Kapan ayat-ayat itu dibaca dan berapa kali, Ustad?” “Nah, inilah kelemahan orang kita,” potong Ustadz Yusuf sejenak, “Qur’an hanya untuk dibaca!”

Agak kesal dengan pertanyaan sang supir, Ustadz Yusuf menyuruhnya segera berdiri. Kemudian ia bertanya, ”Maaf… boleh saya tanya pertanyaan yang sifatnya pribadi? ”Supir itu mengangguk. “Nggak bakal tersinggung?” Kembali supir itu mengangguk. “Bawa duit berapa di dompet?” desak Ustadz Yusuf. Supir itu mengeluarkan uangnya dalam dompet, jumlahnya seratus ribu rupiah. Langsung Ustadz Yusuf mengambilnya. “Nah, uang ini akan saya sedekahkan, ikhlas?”

Supir itu menggaruk-garukkan kepalanya, namun sejurus kemudian mengangguk dengan terpaksa. “Dalam tujuh hari kerja, akan ada balasan dari Allah!” “Kalau nggak, Ustad?” “Uangnya saya kembaliin!”

Mulailah sejak itu ia menghitung hari. Hari pertama tidak ada apa-apa, demikian pula hari kedua, bahkan pada hari ketiga uangnya hilang sejumlah 25 ribu rupiah. Rupanya ketika ditanya Ustadz Yusuf tempo hari, sebenarnya ia bawa uang 125 ribu rupiah, namun keselip.

Pada hari keempat supir itu diminta atasannya untuk mengantar ke Jawa Tengah. Selama empat hari empat malam mereka pergi. Begitu kembali, atasannya memberikan sebuah amplop, “Ini hadiah istri kamu yang kesepian di rumah,” begitu katanya.

Ketika amplop itu dibuka, Subhanallah…. Jumlahnya 1,5 juta rupiah. Para dai muda yang menyimak cerita itu terkagum-kagum.

Kemudian Ustadz Yusuf Mansur bertanya, “Siapa yang belum nikah?” serentak hampir semua peserta mengacungkan tangan dengan semangat, seraya bergurau. “Nah, selain untuk memanjangkan umur, mengangkat permasalahan, sedekah juga mampu membuat orang yang belum kawin jadi kawin, dan yang udah kawin…” “Kawin lagi???” jawab beberapa peserta, kompak! Ustadz Yusuf tertawa, “Yang udah kawin… makin sayang…”

Lalu mengalunlah sebuah cerita lain. Ada seorang wanita berusia 37 tahun yang belum menikah mengikuti seminarnya. Setelah mendengarkan faedah sedekah, wanita itu lantas pergi ke masjid terdekat dari rumahnya dan bertanya pada penjaga masjid itu, “Maaf, Pak… kira-kira masjid ini butuh apa? Barangkali saya bisa bantu…” “Oh, kebetulan. Kami sedang melelang lantai keramik masjid. Semeternya 150 ribu…” Wanita itu menarik sejumlah uang dari sakunya, yang berjumlah 600ribu. Tanpa pikir panjang ia membeli empat meter persegi lantai tersebut,”Mudah-mudahan hajat saya terkabul…” harapnya.

Subhanallah… Allah menunjukkan keagungan-Nya. Minggu itu juga datang empat orang melamarnya! “Itulah sedekah!”

Ustadz Yusuf menantang mata peserta,”Sulit akan menjadi mudah, berat menjadi ringan… asal kita sedekah!”

Sebuah kisah unik lainnya terjadi. Suatu hari, seorang wartawan mengajak Ustadz Yusuf ke Semarang, hanya untuk berpose dengan sebuah mobil Mercedez New Eyes E 200 Compresor baru. Tak ada yang istimewa dengan mobil itu kecuali harganya yang mahal, sekitar 725 juta rupiah, dan… mobil itu milik seorang tukang bubur keliling!

Loh, bagaimana bisa seorang tukang bubur punya mercy? Bisa aja kalau Allah berkehendak. Tukang bubur itu tentunya tak pernah bermimpi bisa memiliki sebuah mobil Mercedez baru. Namun kepeduliannya kepada orang tua, justru membuatnya kejatuhan bulan.

Karena orang tuanya ingin naik haji, tukang bubur itu giat sedekah. Ia sengaja menyediakan kaleng kembalian satu lagi, khusus uang yang ia sedekahkan. Yang kemudian ia tabung di sebuah bank. Ketika tabungannya itu telah mencapai 5 juta, ia mendapatkan satu poin memperebutkan sebuah mobil mercy. Dan si tukang bubur itulah yang memenangkan hadiah mobil tersebut.

Karena tak mampu membayar pajaknya sebesar 25%, seorang Ustadz bernama Hasan, pemilik Unisula, membantunya. Maka, jadilah mobil itu milik tukang bubur.

Kisah terakhir, tentang hutang 100juta yang lunas hanya dengan sedekah 100 ribu rupiah. Orang ini mendengarkan ceramah seorang Ustadz yang mengatakan, kalau sedekah itu dapat membeli penyakit, dapat membayar hutang, dan dapat menyelesaikan masalah. Teringat hutangnya sejumlah 100 juta, ia menyedekahkan uang yang ada, sebesar 100 ribu.

Dalam hatinya ia berharap hutangnya dapat cepat lunas. “Dan… Allah mengabulkan doanya secepat kilat. Begitu pulang dari pengajian, saat menyebrang jalan, orang itu tertabrak mobil dan lunaslah hutangnya!” seru Ustadz Yusuf Mansyur berapi-api.

Semua peserta melongo kemudian tertawa. Hampir semua menebak orang itu meninggal, sehingga si pemilik piutang mengikhlaskan hutangnya.

“Nggak!” koreksi Ustadz Yusuf Mansur cepat, “Dia cuma pingsan. Kebetulan yang nabrak orang kaya. Selain dibawa ke rumah sakit, dia juga melunasi hutangnya!”

Itulah… Allah punya cara tersendiri untuk menolong hamba-Nya. Selain memberikan materi tentang sedekah, Ustadz muda berkulit putih ini juga memberikan masukan dan saran tentang bagaimana tampil yang baik di hadapan audience (baik di televisi ataupun di ruangan), di antaranya mengajarkan teknik memotong materi (untuk commercial break) yang baik, sehingga pemirsa televisi enggan mengganti saluran dan tetap menunggu sampai iklan berakhir, lalu cara melibatkan emosi audience, melibatkan orang sekitar acara (baik outsider, maupun insider), intonasi suara, melakukan atraksi menarik, dan sebagainya.

Begitulah masbro, kisah nyata keajaiban sedekah dari Yusuf Mansur, semoga kita menjadi bagian dari para ahli sedekah yang ikhlas dan mengingat Allah saja dalam bersedekah.

Note: Diambil dari Blog Rony Wijaya…Smoga Bermanfaat Untuk Kita Semua

Categories: Sebuah catatan | Tinggalkan komentar