Monthly Archives: September 2012

Mengelola Bisnis Microbanking # 1

Sebelum bisnis mikro berkembang seperti saat ini, ada catatan menarik bahwa sebelumnya ada beberapa bank umum di Indonesia yang gagal mengembangkan microfinance.

Bank Danamon, dibawah kepemilikan pemegang saham lama (sebelum  di-bailed out oleh pemerintah) membajak senior-seniornya di BRI untuk mengembangkan model BRI Unit namun gagal berkembang karena beberapa faktor internal seperti komitment dari manajemen, expert yang dibajak secara konseptual dan praktis tidak memahami microfinance dengan komprehensif, budaya perusahaan dan yang paling itu tidak terbentuknya “mental model” para microbaker di bank tersebut.

Bank BNI pernah membuat unit bisnis microfinance, dengan fokus pada target market above the line of BRI Unit. Pada waktu itu BNI mengakuisisi program PUKM BI (sorry jika singkatannya tidak tepat, saya agak lupa). Pada waktu itu pernah Bapak Irwan Nazirwan dari Microbanking Connection mengingatkan agar membangun model bisnis microfinance yang unique dan inline dengan grand model bisnis BNI. Kegagalan utama yang diidentifikasi adalah mengadopsi model SME loan dan sayangnya didilakukan re-enhancement dan didivestasi.

Bank Dagang Bali. Bank BDB dan Pak Oka menjadi salah satu inspirator Marguerite Robinson (konsultan BRI Unit). Sayang bank tersebut secara tragis bangkrut karena mengalami kerugian di pasar uang derivative, ditutup oleh BI dan pemilik dan manajemennya dipenjara.

BPR, sudah puluhan (bahkan mencapai angka lebih dari 100 unti) yang bangkrut karena berbagai macam alasan, ada yang salah urus, fraud dll.

Microbanking dan microfinance sangat unik tidak dapat hanya dipadang dari sisi ekonomi atau mengelola bank dengan skala mikro saja. Ada dimensi-dimensi lain yang perlu dipahami. Saya pernah dicounter oleh teman, bahwa kredit mikro itu sederhana dan tidak memerlukan ilmu dan keterampilan tinggi, namun ketika aplikasi mikro kredit tersebut dikonstruksi menjadi model-model ekonomi yang rumit baru teman saya tersebut terbuka horizonnya. Model ekonomi yang paling mendasar digunakan adalah agency theory, contract design, behaviour pattern dll. Dari sisi ilmu sosial juga telah dikembangkan berbagai pendekatan qualittaive untuk melihat interwoven budaya, agama dalam komunitas masyarakat yang dapat mempengaruhi sustainability dari microfinance.

Pelaku micro itu sebenarnya sederhana saja, mereka membutuhkan pelayanan yang cepat, sederhana dan tidak bertele tele dengan persyaratan dokumentasi yang belum mereka pahami secara fasih.
Tinggal kita saja yang dibank yang harus berevolusi terus menerus sesuai dengan idea, terobosan dan planning yang akan kita buat, jadi tidak hanya copas dari bank yang sudah masuk ke potensi mikro ini.

Mudah-mudahan, semakin banyak para pemodal asing atau pemodal Indonesia sendiri yang mau mengembangkan mikro bank dengan penuh dedikasi dan mudah-mudahan Indonesia juga menjadi “tuan rumah” di tanah mikro Indonesia ini.

Categories: Bisnis Mikro | Tinggalkan komentar